(Review) The Cottage: Tertawalah di Atas Darah

January 22nd, 2009 by miringmiring

Sebenarnya film ini pernah saya tonton tahun lalu ketika hajat ScreamFestIndo 2008 digelar. Nah, berhubung ternyata film ini kembali diputar di jaringan bioskop Blitz. Tidak ada salahnya saya publikasikan kesan saya terhadap film horror asal Inggris ini.

Film horror? Eit, sebaiknya jangan terlalu antipati dulu. Meskipun di tengah cerita film ini bakal mengobrak-abrik andrenaline, justru keistimewaan film ini terletak dari sisi humor kelamnya.

Opening credit dan music score dari film ini sungguh di luar kebiasaan. Lupakan alunan mistik dan gelap string-section orchestra yang mencabik-cabik durasi. Di film ini, justru komposisi musik mengalun bagaikan arena sirkus atau carnaval. Sungguh riang dan lucu.

Apakah filmnya selucu itu? Inggris memang jagonya bikin film ‘dark comedy’ dan saya merasa film ini berada di jalur tersebut. Meskipun mempertontonkan adegan sadis penuh darah, toh tetap saja dialog tersusun dengan kosa-kata lucu yang tidak terkesan dipaksakan.

Film ini memang dikemas dengan gaya komedi namun ditata dengan cerita mencekam yang serius. Kekacauan dimulai ketika David dan Peter menculik Tracey, anak perempuan seorang mafia yang disekap di sebuah pondok terpencil. Peter meminta tebusan sejumlah uang kepada mafia tersebut dan dititipkan ke Andrew, abang tiri Tracey. Andrew yang ternyata rekan kriminal Peter senang bukan main begitu dberi tas besar oleh ayahnya. Tapi bodohnya, dia tidak mengecek lebih dulu isi dari tas yang dianggap berisi uang.

Benar saja, begitu tas dibuka dihadapan Peter, ternyata isinya hanya kumpulan tisu toilet. Parahnya, Andrew ternyata dikuntit oleh dua preman asal Korea kiriman ayahnya yang ingin mengetahui tempat persembunyian Peter.

Kekacauan dilanjutkan dengan Tracey yang berhasil melepaskan diri dan berbalik menawan Peter yang kikuk. Tracey ternyata tidak selemah yang diduga. Justru gadis liar ini memegang kendali atas nasib kedua penculiknya.

Selanjutnya, ketegangan mulai menyentuh durasi film ini, ketika kedua preman Korea yang seharusnya dibayar untuk membunuh Peter dan David, justru malah ditemukan terbunuh dengan leher digorok. Pembunuhnya ternyata seseorang yang menyerupai monster yang tinggal di desa tersebut.  Dari hubungan yang berawal sebagai tawanan dan penculik, mau tidak mau, Trey, David dan Peter harus ‘bekerja sama’ menghadapi pembunuh sadis ini.

Apakah kerjasama si gadis liar dan dua penjahat amatiran ini berhasil? Tentu saja tidak. Justru kekacauan semakin terjadi. Dari sini, seolah-olah kita tertawa di atas darah. Karena memang film ini mempertontonkan adegan mutilasi dan pembunuhan yang sedikit ekstrem. Tapi berhubung dikemas dalam suasana parodi, film terkesan tidak lagi mengerikan. Justru ketika si pembunuh memasang muka seram sambil membawa-bawa kampak dan mengejar korbannya, saya malah sempat tertawa. Entahlah, apakah reaksi ini normal efek dari film atau memang saya sudah gila?

Score 4/5

(Mantan) Rekan Kerja Adalah Aset Penunjang Masa Depan

January 21st, 2009 by miringmiring

Teman saya, salah seorang wartawati dari sebuah media A berkeluh-kesah kepada saya. Dia merasa kesal dengan perilaku salah-satu bekas rekan kerjanya di media yang sama. Sang rekan yang sekarang ini bekerja di sebuah media B kerap kali menyepelekan amanat yang ditujukan kepada media tempat dulu dia bekerja. Misalnya saja, ketika sebuah vendor mengundang dia untuk meliput suatu even, dia tidak pernah mem-forward undangan tersebut ke teman saya. Ironisnya, ketika di-SMS, balasan yang diterima kira-kira begini: Sori ini siapa ya? Phonebook gue ilang semua.

Entah benar phonebook-nya hilang atau sengaja dihilangkan, dia seharusnya sudah faham kalau undangan itu ditujukan ke dia karena si pengundang masih menganggap dia bekerja di media A, di samping even yang dimaksud tidak ada hubungannya dengan desk dia yang baru. Jika begitu, sebaliknya dia mem-forward informasi tersebut kepada teman saya atau bekas rekan dia di media A.

Hal ini pernah saya alami tadi siang, ketika sebuah perusahaan logistik yang menganggap saya bekerja di media X mengontak saya untuk datang meliput ke hajat yang diselenggarakan besok. Nah, karena saya merasa sudah tidak bekerja di media X lagi, saya pun mem-forward undangan tersebut ke teman saya yang masih bekerja di media tersebut. Sebaliknya, teman saya yang sudah tidak bekerja di media Y tempat saya bekerja sekarang, sering mem-forward undangan peliputan yang ditujukan ke dia kepada saya. Cara ini adalah wajar dalam dunia persilatan jurnalistik, dimana terkadang tenaga jurnalisnya sering berpindah tempat kerja. Sayangnya, tidak begitu dengan yang dilakukan oleh rekan teman saya itu.

Apakah ini upaya penjegalan terhadap akses informasi kepada teman saya? Saya rasa tidak, karena saya juga diperlakukan sama. Padahal, rekan teman saya ini pun masih terhitung teman sepermainan saya di desk peliputan yang sama. Kami terkadang nongkrong bareng, mulai dari nonton hingga karaokean. Sekarang jangan kan nongkrong bareng atau bercanda ria di YM, SMS-an atau nelp saya pun sudah tidak pernah dilakoni lagi.

Tapi entah sifat atau bawaan dia yang ‘jelek’ sehingga menganggap pertemanan hanya terjadi jika dalam lingkup kepentingan saya sama saja, sehingga begitu tidak di dalam kepentingan yang sama, pertemanan diakhiri dan siap mencari teman baru di kepentingan yang baru. Saya menyebutnya teman, tapi saya sendiri masih ragu apakah dia masih menganggap saya temannya atau saya benar-benar dihapus dari kehidupan barunya. Padahal, saya maupun teman saya tidak pernah punya permasalahan atau konflik pribadi kepada dia.

Langkah dia tentu sangat bodoh, egois, dan sombong. Bagaimana tidak? Padahal hubungan teman atau mitra kerja sebaiknya terus dibina sekalipun kepentingan sudah tidak sealiran lagi. Istilahnya, menjaga silaturahmi. Sejelek apapun rekan kita di tempat bekerja, jika dia mengenal reputasi kita, pasti sewaktu-waktu dia akan menghubungi kita jika ada suatu peluang atau proyek yang membutuhkan keahlian kita.

Hal ini pernah terjadi kepada saya ketika mengalami frustasi karena kangen dengan dunia jurnalistik. Saya yang pada saat itu bekerja di sebuah bank swasta setelah mengecap pengalaman sebagai wartawan di media C, merasa jurnalistik adalah dunia saya. Di tengah kerinduan itu, tiba-tiba rekan saya sesama veteran media tersebut, memberitahukan bahwa seorang kenalannya sedang membuat sebuah majalah TI. Atas rekomendasi dia, saya akhirnya bekerja di media tersebut, hingga mengantarkan saya kepada pengalaman-pengalaman baru yang tak mungkin bisa saya dapatkan di dunia perbankan yang monoton dan menuntut rutinitas. Saya merasa terkesan sekali ternyata dia masih menyimpan nomer HP saya, padahal kami berdua sudah hampir setahun berpisah semenjak sama-sama hengkang dari media C.

Dari situ saya mulai merasa, bahwa teman adalah aset yang dapat menunjang masa depan. Saya tidak malu  mengakui, karir saya yang berkembang ini tidak bukan karena atas informasi maupun rekomendasi-rekomendasi teman saya yang telah mengetahui reputasi saya di dunia kerja, meskipun pada awalnya saya memulai dari belum mengenal siapa-siapa. Alhasil, beberapa proyek pun sudah saya kerjakan, seperti menulis buku, profil perusahaan, hingga tawaran menulis biografi seorang tokoh. Hal ini tidak mungkin saya peroleh jika saya tidak menjaga reputasi dan koneksi kepada orang-orang yang saya kenal, setidaknya dalam lingkup kepentingan yang seirama.

Meskipun tidak lagi dalam lingkup kerja yang sama, saya sering mengunjungi teman-teman saya yang ulang tahun, melahirkan, atau jika mereka terkena musibah. Selain motif empati, saya lakukan ini karena ingin menjaga silaturahmi. Bagaimanapun juga, sewaktu-waktu mereka akan merekomendasikan sesuatu pekerjaan yang ada kaitannya dengan reputasi saya. Maka, berbahagialah orang yang terus menjaga hubungan baiknya dengan mantan rekan kerja. Sewaktu-waktu mereka bisa berperan sebagai ‘malaikat penyelamat’ di kala galau melanda karir maupun kehidupan pribadi.

Nikmati Wiken, Satu Hari Lima Film

December 20th, 2008 by miringmiring

Sabtu ini benar-benar hari istirahat terbaik yang pernah saya dapatkan dalam beberapa bulan belakangan. Maklum, biasanya setiap wiken hampir tidak pernah sepi dari macam-macam urusan, mulai dari pekerjaan yang mesti diselesaikan, kondangan, hingga membantu urusan teman. Tetapi tidak dengan sabtu ini. Saya hampir tidak ada pekerjaan yang mesti dikerjakan, tidak ada janjian dengan teman, dan tidak ada jadwal kondangan. Jadi saya puaskan diri saya untuk tidur-tiduran dan tentunya melaksanakan hobi saya: nonton film.

Selapas bangun tidur setelah meminum 3 gelas air putih, saya tidak langsung sarapan. Saya langsung menatap monitor laptop yang ada di kamar. Bukan untuk bekerja atau nge-blog. Tetapi setel DVD Memento yang dipinjamkan Ryan. Meski film ini agak berat, entah kenapa saya suka sekali menontonnya berulang-ulang. Menurut saya, Christoper Nolan memang tidak dapat dipungkiri kejeniusannya dalam meramu sebuah film yang kelam namun dieksekusi dengan cerita yang cerdas.

Setelah sarapan, saya beranjak naik ke ruang atas. Kali ini sasaran film berikutnya adalah 28 Days Later dan sikuelnya 28 Weeks Later yang keduanya tak lagi diputar di laptop, melainkan di DVD player yang ada di ruang tersebut. Khusus untuk film kedua film ini, bisa saya bilang sebagai film zombie terbaik dengan terobosan dari sisi cerita maupun gambar. Saya pun tidak bosan menontonnya berulang kali. Percaya deh, film I am Legend yang diperankan Will Smith nyata-nyatanya jiplak ide dari 28 Days Later, tapi tidak lebih baik dari film ini. British movie memang mantaps!

Kenyang nonton DVD, saya pun bermalas-malasan di kasur (serasa di surga hehehe…). Ketika mata hampir terpejam, Ryan menelpon. Kali ini dia bertanya tentang film Quarantine yang sedang beredar di bioskop Jakarta. Saya jelaskan film tersebut merupaka remake dari film Spanyol Rec. Ujung-ujungnya saya malah gak jadi tidur dan malah bergegas cabut ke Planet Hollywood. Tak lama, Bambang nelp. *Sumpah deh, dua orang ini memang partner menonton yang asik, disamping Afrin :P….* Gak nyangka, ternyata dia juga pengen nonton Quarantine. Ya sudah saya ajak nonton bareng aja. Sayangnya, karena waktunya mepet banget baik saya maupun Ryan tidak ada yang sampai jauh-jauh waktu dari jadwal putar film 19.30. Mungkin, gara-gara ini pula Bambang akhirnya tidak jadi ikutan nonton.

Seperti biasa, sudah dipastikan malam minggu PH penuh. Begitupun tadi. Untungnya, meski telat 10 menit, saya mendapatkan seat yang cukup strategis:  baris ketiga dari belakang. Begonya, di dalam bioskop pakai acara salah duduk lagi. Untung gak jadi bahan sorakan. Bisa tengsin seumur hidup deh kalo sampe begini.

Setelah Quarantine bubar, rupanya Ryan ngerasa kurang pol banget. Secara doi bukan penggemar film bergenre horror. Pas kenyang makan Hokben, ide gila tercetus: nonton midnight. Waduh, bakal pulang pagi pastinya. Rencananya kita marathon nonton Madagascar 2. Sayangnya, ternyata film ini banyak peminatnya. Satu jam sebelum pemutaran, seat strategis udah ludes. Pilihan paling mantap, apalagi kalo bukan Australia yang dibintangi tante Nicole. Parahnya film ini diputar pukul 23.55 berarti mendekati dini hari. Karena pesan tiket 2,5 jam sebelum pemutaran, mau gak mau kita putar otak gmana caranya membuang waktu. Pilihan tergeblek adalah nongkrong di SPBU Gatot Subroto, sambil minum-minum. Eits, bukan alkohol lho, tapi teh hijau sama jus apel dan ditemani satu pak Tango coklat. Kenyang ngobrol ngalor-ngidul, saya balik lagi ke bioskop dan berharap film segera diputar.

Seperti dugaan saya sebelumnya, Australia adalah film yang memakan banyak durasi. Hampir tiga jam. Stereotip film yang ingin menjebol bursa Academy Award. Wah, busuk banget hari sabtu saya didominasi nonton film. Tapi ini memang benar-benar rekreasi yang menyenangkan buat saya. Tiada dugem seindah nonton. Secara saya gak suka dugem beneran.

Huaah….sebenarnya saya ingin langsung posting review tentang kedua film yang barusan saya tonton. Tapi berhubung mata tidak mau kompromi, ya tampaknya saya memilih tidur. Apalagi sekarang sudah jam 05.30. Jadi sampai ketemu di posting selanjutnya……..

To Die For ScreamFest (Maksudnya, Berani Mati Demi INAFFF’08)

November 17th, 2008 by miringmiring

Tadi pagi, bangun tidur saya merasa pegal-pegal. Mungkin ini efek dari gejala flu yang untungnya langsung ketangkal berkat vitamin C 500 mg yang saya minum sebelum dan sesudah tidur. Percaya deh, buat penyakit-penyakit ringan seperti ini saya lebih percaya dengan sebutir kapsul vitamin daripada obat warung.

 

Pegalnya saya bukan karena hari minggu saya harus bekerja keras, meskipun Sabtu pagi saya mesti ke Bandung dan kembali lagi pada sore harinya karena harus meliput sebuah even yang dihadiri Wapres JK. Jadi, badan pegal saya lebih kepada kerasnya ‘perjuangan’ saya demi menonton The Cottage, film perdana dalam rangkaian Indonesia International Fantastic Film Festival (Inaff’08) yang disebut sebagai edisi kedua Screamfestindo (saya lebih suka menyebut festival ini Screamfest, kesannya lebih horror he-he-he).  

 

Kesibukan saya minggu ini yang gila-gilaan memang tidak memungkinkan saya datang ke pembukaan festival ini pada 14 November lalu. Makanya, begitu membeli tiket paketan pre-sale, saya memilih film yang diputar pada hari Minggu, yakni The Cottage, The Screen, Hansel & Gretel, dan Saw V (ketiga film terakhir saya nonton secara marathon pada 22 November di Blitz MOI besok!). Takutnya, jika pesan tiket untuk hari kerja, saya malah tidak bisa datang. Saya putuskan jika ingin nonton film di hari kerja, beli daily pass aja. Biar tiketnya gak hangus karena saya tidak jadi datang, seperti pengalaman saya tahun lalu: beli tiket 10, tapi yang ditonton cuma 6 film.  Sayang kan..

 

Sebenarnya saya nonton dengan salah seorang teman saya. Sayangnya, begitu rencana berangkat sudah mulai, dia urung datang karena khawatir kosannya kebanjiran, mengingat hujan sudah menunjukkan awal kekuatannya dengan memamerkan awan gelap plus petir yang sangar.

 

Sebenarnya pertanda ini alamat buruk buat rencana nonton. Tapi boleh buat, the show must go on! Saya tetap nekat berangkat dengan atau tanpa teman. Alhasil ada teman saya yang lain yang bersedia. Secara tiketnya gratis gitu dari saya he-he-he. Lagian, dia juga mungkin sedang bête di rumahnya.

 

Eng ing eng…saya pun meluncur dengan motor masing-masing. Rute yang salah pilih adalah Kemayoran trus ke Sunter. Biasanya rute ini bebas macet kalo ingin menuju Kelapa Gading. Apesnya, begitu sampai di Kemayoran, hujan sudah beraksi. Deras pula. Ditambah kebiasaan buruk saya, selalu tampil di tengah hujan tanpa jas hujan.. Saya sih nekat aja terobos hujan, sampai kelupaan bawa saya mengajak teman.

 

Udah setengah basah, saya berhenti sejenak. “Eh, kita terobos aja apa neduh dulu?” tawar saya.

 

Dengan mimik penuh yakin teman saya angguk, “Ya udah, siapa takut! Hajar aja.” Bodohnya, dia malah lepas jaketnya terus dititipkan ke saya. Benar-benar siap tempur nih orang.

 

Jreng, saya pun ngebut menuju Sunter. Tanpa diduga di daerah sekitar sini banjir. Selain hujan-hujanan, saya juga rela jadi bulan-bulanan mobil yang melintas di atas banjir yang airnya menerjang motor saya. Basah udah pasti merayap hingga ke celana dalam.

 

Ketika sampai di MOI Kelapa Gading, ujan agak reda. Tapi itu tidak mengobati basah di tubuh saya. Di area parkir, saya bersama teman saya itu akhirnya buka baju dan jaket masing-masing. Meski area parkir tidak bisa dibilang sepi, entah kenapa rasa malu saya hilang. Dengan cueknya saya buka baju terus memeras air hujan yang membuat volume kaos dan jaket saya bertambah berat.

 

Selama masuk dalam mall, saya tidak memusatkan perhatian dari orang-orang yang memperhatikan kekacauan kami berdua. Saya sempat deg-degan, jangan-jangan pihak Blitz tidak ingin kursinya dibasahi oleh kami. Toh, akhirnya bisa juga nonton.

 

Tapi penderitaan saya bukan sampai di situ saja. Selama film berlangsung, sudah dapat dibayangkan betapa dinginnya AC di dalam bioskop. Untung filmnya bagus. Jadi saya berusaha menghangatkan diri dengan alur film tersebut. Sementara teman saya tampak menggigil. Gokilnya, dia sesekali ‘membakar’ dirinya sendiri dengan korek api gas yang dibawanya. Aksinya ini tentu saja jadi perhatian penonton lain. Malah ada sepasang cowok-cewek yang langsung pergi meninggalkan bioskop karena tingkahnya he-he-he..

 

Wah, mudah-mudahan di putaran film selanjutnya, hujan tak lagi pamer kekuatan. Jujur saja, Minggu itu serasa pembantaian. Hujan bener-bener ngerjain. Tapi, kecintaan terhadap film horror rupanya membuat saya tidak gentar menghadapi horrornya hujan, halah!

Disangka Pembobol Kotak Amal Gara-Gara Hape

November 6th, 2008 by miringmiring

Ini adalah kebodohan saya yang kedua di hari saya sama. Selesai renang selepas adzan maghrib, saya buru-buru menuju mesjid Al-Fatah yang berada di gedung parkir Gajah Mada Plaza. Peristiwa di kolam renang masih terekam jelas dan membuat saya salting berkepanjangan yang berakibat pada kebodohan selanjutnya.

Ketika ingin meninggalkan mesjid, langkah saya terhenti sejenak karena melihat kotak amal yang berada di dekat pintu keluar. Alih-alih ingin infaq, saya membuka dompet untuk mengambil selembaran rupiah. Di saat yang sama, tangan kiri saya juga sedang asik mengetik SMS. Nah, karena pikiran saya sedang ribet, bodohnya saya malah memasukkan hape yang saya pegang itu ke dalam kotak amal yang kebetulan mempunyai lubang tempat uang yang cukup besar. Untungnya begitu hape dimasukkan ke dalam lubang tersebut, saya tersadar. Mau gak mau saya tarik kembali hape saya yang posisinya sudah masuk ke dalam lobang. Apesnya, tangan saya terjepit di lobang kotak tersebut. Melihat adegan tolol ini, sontak penghuni mesjid melotot ke arah saya. Mereka yang tidak tahu kebodohan saya, menyangka saya sedang berusaha membobol kotak amal.  Tapi begitu melihat wajah saya yg lugu ini, sepertinya dugaan mereka jadi meleleh dan malah tertawa ketika tahu saya memasukan barang yang salah ke dalam lubang tersebut…*ya emang saya bukan maling gitu loh…

Untung hape saya langsung selamat. Coba kalo nyemplung ke dalam kotak amal tersebut. Waduh gmana cara ngambilnya? Masa sih saya infaq pake hape? Tajir banget dah. Duh, hari ini benar-benar kacau. Untung saya sempat infaq beneran, coba kalo sampe kelupaan, waduh bisa disamber geledek pulangnya hehehe…

Barang (Disangka) Hilang Bikin Heboh Kolam Renang

November 6th, 2008 by miringmiring

Belakangan ini renang menjadi olah raga yang mulai saya akrabi. Bukan karena olahraga ini tidak menghasilkan keringat, tetapi karena memang dari sekian banyak macam olah raga, sepertinya renang adalah olahraga yang sedikit saya kuasai, karena saya dari kecil saya memang senang main air. Selain itu, olahraga ini juga sebagai terapi sinusitis yang saya idap selama bertahun-tahun. Jadi, hampir setiap minggu, tepatnya hari kamis, saya menyempatkan datang ke kolam renam umum di Gajah Mada Plaza yang kebetulan dekat dengan tempat tinggal saya.

Tapi suasana renang yang biasanya berjalan aman dan damai, mendadak heboh sore tadi. Sebenarnya saya juga tidak terlalu suka memicu kehebohan ini. Apalagi kehebohan ini berasal dari kecerobohan saya yang menghilangkan cooling pad untuk laptop yang baru saja saya beli di plaza. Saya ceroboh tidak menaruh plastik itu ke dalam tas yang saya bawa ke kamar bilas. Plastik itu saya taruh di meja tempat saya menaruh tas selama saya renang. Memang biasanya saya selalu menaruh barang yang saya bawa ke loker yang disediakan. Cuma karena kali ini tidak ingin repot jadi tas saya taruh saja di meja dekat kolam.

Selesai renang, saya mandi dengan tenangnya karena saya pikir meja tersebut dijaga oleh salah satu teman saya yang kebetulan juga sedang renang bersama temannya. Tapi begitu saya bilasan kok rasanya aneh melihat teman saya juga ikutan bilasan. Wah kalo gitu siapa yang jagain barang gue? Pikir saya sambil keramasan. Akibatnya, jika biasanya saya  bilasan memakan waktu sekitar 15 menit, kali ini terpaksa saya persingkat 10 menit.

Setelah berpakaian saya langsung menuju ke meja tempat saya meletakan plastik cooling pad tadi. Ternyata kosong. Yang ada cuma tiga pasang sepatu milik saya dan teman saya. Kelabakan sudah tentu. Namun sebisa mungkin saya tidak panik. Sayangnya, tidak begitu dengan reaksi teman saya. Begitu mendengar plastik itu hilang, dia buru-buru langsung tanya sana-sini. Petugas keamanan di dalam tentu panik, begitu juga cleaning service-nya. Sampai-sampai tempat sampah digeledah untuk menyakinkan plastik itu tidak terbuang.

Yang tidak mengenakkan, dua SPG sebuah produk sabun antiseptik yang kebetulan booth-nya dekat dengan TKP juga ikutan panik seolah merasa takut tertunduh. Melihat gelagat yang tidak mengenakkan ini saya mencoba tenang dan berusaha untuk iklas kalo benar plastik itu hilang. Saya tidak menyangka kesigapan pekerja di kolam renang ini membuat saya tidak enak, karena mereka benar-benar niat sekali membantu. Mungkin kasus kehilangan barang disini adalah hal yang langka, makanya mereka panik. *Thanks ya untuk bantuannya…

Ketika semua orang kelimpungan, tidak disangka temannya teman saya itu datang selesai bilasan sambil menenteng plastik yang saya cari.  Setengah girang saya menyambut kedatangan dia dari kamar bilas. Cuma itu dia. Saya tidak enak banget karena sudah hampir menggemparkan seluruh isi arena kolam renang. Otomatis, saya tidak henti-hentinya minta maap sana-sini, terutama untuk sekuriti dan cleaning service yang sudah bela-belain ngacak-acak tempat sampah. Ya ampun bro, kalo pengen inisiatif bilang-bilang dulu napa? Untung aja gak disorakin seisi gedung. Btw, thx buat inisiatifnya juga. Mudah-mudahan kebodohan ini gak terulang lagi.

Halloween is Coming! Persiapkan Rasa Takutmu!

October 31st, 2008 by miringmiring

Sedap dah…akhirnya reboot film Halloween udah diputer di bioskop. Gilingan, setahun saya nunggu nih film diputer disini. Akankah reboot a la Rob Zombie ini bakal lebih bagus dibandingkan versi orginalnya (John Carpenter/1978)?

Halloween kayaknya tontonan wajib bagi yg doyan hiburan penuh darah tanpa ledakan-ledakan mesiu yg berlebihan. Sejak dirilis tahun 1978, film yg diproduseri Mustapha Akkad (trust me he’s a good moeslem who produced “The Messengge, story of Muhammad SAW) ini langsung mencetak box office fantastis di jamannya, yakni menembus jutaan dollar. Padahal film ini dibuat dengan dana yg cekak yakni sekitar US$ 300.000. Malah Jamie Lee Curtis, si pemeran utama ela merogoh koceknya sendiri untuk wardrobe-nya.
 
Menyusul suksesnya tersebut, Halloween menjadi salah satu film horror legendaris yg mempopulerkan tokoh psikopat haus darah Michael Myer, yg popularitasnya hingga sekarang tak tergeres oleh Hanibal Lecter (Silence of The Lambs dan franchise-nya), dan John Jigsaw (Saw). Halloween juga menjadi trensetter bagi para pembuat film horror dalam menampilkan tokoh psikopat seperti Jason Vorhess (Friday the 13th) yg kerap dibanding-bandingkan dengan Michael Myer.

Produksi Halloween (2007) merupakan reboot dari Halloween yg telah berhasil membangun sikuel hingga delapan seri yg merupakan titik balik dari perjalanan psikologis Michael Myer. Sikuel Halloween yg terakhir dirilis adalah Halloween:Resurection (2002) yg dibintangi rapper Busta Rhymes dan model yahud Tyra Banks. Seri ini diperkirakan menjadi penampilan terakhir Jamie Lee Curtis sebagai Laurie Stode, tokoh yg diincar Michael, setelah kembalinya dia ke film ini di Halloween H20 (2000).

Kemudian, mengenai sukses Halloween versi Rob Zombie. Wah, ternyata boleh juga nih mantan performer band rock cadas White Zombie ini beralih ke film, setelah film debut horrornya House of 1000 corps laris gila2an. Halloween buatannya, diklaim sebagai fim horror yg berhasil menembus box office di hari pertama pemutarannya, dengan pemasukan US$ 26,5 juta. Sukses ya Om Rob…

Waduh, jadi gak sabaran pengen melangkahkan kaki ke gedung bioskop. Biasanya, saya selalu menonton fim genre seperti ini sendirian. Tapi kebetulan salah satu teman saya ada yg khilaf, mengajak saya nonton film. Ya udah, meluncur….

Oh ya, mudah2an setelah ini Saw IV langsung diputer juga. Di Amrik aja udah maen Saw V tgl 24 Oktober kemaren.

Payah nih jaringan bioskop Indonesia terlalu diskriminasi sama film-film genre beginian…

I love slasher/gory Movie!

Oh No! Salah Nulis

August 4th, 2008 by miringmiring

Selain dirongrong deadline yang mencekik, seorang jurnalis juga dituntut harus teliti dalam menulis. Dalam hal ini, cross-check merupakan penawar terdepan. Sayangnya, dengan ritme kerja yang sedemikian megap-megap memicu adrenalin, terkadang jurnalis juga melalaikan ketelitian dan mengabaikan cross-check. Salah penulisan isi berita, nama narasumber, dan judul, merupakan momok yang menakutkan bagi catatan karir seorang jurnalis. Jangankan mereka yang baru bergelut di bidang ini, ada kalanya yang udah makan asam-garam saja masih tersandung juga. Jurnalis juga manusia, bukan?

Saya teringat pengalaman buruk seorang teman yang bekerja di sebuah harian. Ketika menulis berita kriminal tentang supir taksi yang merampok penumpangnya, teman saya melakukan kesalahan pencantuman nama armada taksi. Teman saya mengira nama taksi yang digunakan pelaku adalah nama kepanjangan dari sebuah perusahaan armada taksi tertentu. Padahal, antara keduanya berbeda. Akibatnya, sehari setelah berita itu terbit, kantor redaksi teman saya itu didemo oleh ratusan supir taksi dari armada taksi yang ditulis. Mereka menuntut bahwa perusahaan taksi yang digunakan pelaku berbeda dengan armada mereka. Malah, pendemo meminta agar pihak redaksi menyerahkan teman saya untuk dieksekusi. Serem banget kan…

Nah, apa yang teman saya alami tampaknya juga saya (tak sengaja) lakoni untuk majalah saya edisi ini. Ketika membuat laporan utama tentang Indonesia Go Open Source (IGOS), salah satu narasumber yang saya wawancarai dari sisi vendor adalah Wibisono Gumulya, Presiden Direktur PT Sun Microsystems Indonesia. Entah kenapa ya, meskipun saya sangat familiar dengan beliau, tetap saja yang terekam di otak saya adalah nama Gunawan Wibisono, salah satu penulis dan nara sumber saya yang lain. Maka, disinkronisasi antara otak dan tangan pun terjadi. Saya menulis Gunawan Wibisono, sebagai Presiden Direktur PT Sun. *kacau banget deh*

Udah gitu, pemred saya yang memang percaya banget sama tulisan saya, langsung aja main lay-out. Maklum, meski jelek-jelek begini, tulisan saya hampir seluruhnya selalu lolos dalam proses edit. Kalaupun dikoreksi *bukan bermaksud sombong lho* paling tidak lebih dari 10 persen atas keseluruhan materi tulisan yang saya garap. Maka, adanya kesalahan ini merupakan catatan agar saya lebih teliti, teliti, dan teliti.

Paling setelah majalah ini sampai ke tangan yang bersangkutan, PR-nya bakal nelpon minta klarifikasi. Nah, demi akurnya hubungan antara jurnalis dan narasumber *dalam hal yang positif* tampaknya saya juga harus menyediakan ruang ralat di edisi nanti. Maaf banget ya, Pak Wibi

Waspadai Tukang Nasi Goreng Di Pinggir Jalan

July 31st, 2008 by miringmiring

Nasi goreng memang makanan paling cihuy dan Indonesia banget. Bohong aja kalo ada yang ngaku gak doyan nasi berkecap ini. Meski sebenarnya gampang dibikin, tapi kebanyakan orang justru lebih milih beli di tukang nasi goreng pinggir jalan. Setiap orang pasti udah punya tukang nasi goreng idolanya masing-masing. Dari yang gerobaknya minimalis keliling jalan dengan kaca dicat “ojolali”, sampai yang udah mapan dengan tenda-tenda seadanya.

Kelezatan aroma dan uap berbau bumbu saat nasi digoreng dalam wajan panas, siapa yang tak dibuat lapar. Tapi, tahu gak, ternyata aroma ini sangat berbahaya sekali dan bisa mengancam keselamatan jiwa orang lain. Saya baru saja mengalami kejadian yang cukup membuat nyawa saya satu-satunya ini melayang.

Jadi begini ceritanya. Sepulang ngantor dari arah tebet menuju karet, saya yang kebetulan ngantuk berat karena tidak sempat tidur tadi malam cukup tahu diri dengan memicu tarikan motor seadanya. Selain pelan, motor juga saya lintaskan di samping kiri jalan. Biasanya sih, nyelip-nyelip maut dah.

Karena kondisi malam temaram yang membuat pandangan saya gak jelas, saya buka kaca helm half face saya (bukan pengen tebar pesona lho). Saat berada di pinggir jalan itulah ternyata maut mengintai. Saya melintas di tukang nasi goreng yang tampak asyik oseng-oseng wajannya. Tampak uap dan aroma menyengat langsung tercium. Saking ganasnya, aroma tadi juga menyengat mata saya.

Bisa ditebak, mata saya langsung perih seperti disemprot uap panas dan pedas. Kondisi ini membuat pandangan kabur dan kemudi motor jadi gak stabil. Sampai akhirnya…TWEWEW..GUBRAK!!!

“Aduh, bego banget sih nih anak nyelonong aja!! Hampir aja gue mampus elo tabrak!” Seorang mbak-mbak beralis botak ngomel dengan parahnya. Saya hampir gak mendengar apa ucapan bahasa binatang selanjutnya. Kayaknya sih, dia sempat menyebut beberapa anatomi tubuh pria yang paling vital dengan lugas dan tegas.

Dia pantas marah. Mungkin disangkanya saya menyetir dalam kondisi mabok. Dia sendiri juga gak peduli, justru sayalah yang nyungsep ke dalam galian jalan dengan posisi menggemaskan. Sementara saya hanya menyenggol tangannya dengan pelan. Jangankan lecet, bentol pun sepertinya kulit dia gak bakalan.

*Untung motor gue gak kenapa-kenapa* Saya lega melihat kondisi mio saya masih tetap tegak lurus berdiri, sementara si empunya udah ngangkang dengan posisi manis. *Untung gue gak luka* Ajaib, saya hampir tidak merasakan sakit sedikitpun. Justru, saya ketawa kecil melihat alis mbak-mbak yang seperti kail pancingan membentuk wajahnya yang sangar.

“Duh, maaf deh, Mbak. Mata saya kelilipan,” saya berusaha membungkukan badan.

“Ah, tai lo. Mang badan gue segede apan sih, masa gak liat?!”

*Jah, cape deh. Nih orang gak ngerti banget kalo saya tadi bilang kelilipan. Jangankan bodi dia yang kerempeng twiggy, gudukan galian jalan aja gak seolah gak eksis*

“Ya, maaf deh.”

“$gF%r&..*&5tE#!@##e!!!” Si Mbak ngeloyor nyebrang jalan. *Mohon terjemahkan sendiri ya*

Nah, dari cerita tadi ngerti kan betapa bahayanya tukang nasi goreng di pinggir jalan. Buat yang berkendara motor dengan helm half face atau cetok, jangan coba-coba deh pede melintas di gerobak yang kebetulan lagi beroperasi memasak. Kalo gak pengen ‘buta mendadak’. Jujur aja, ini kejadian kedua kalinya menimpa saya. Sebelumnya, saya sempat ngalamin ketika melintas di pinggir jalan Roxy. Tau sendiri deh, disana banyak gerobak nasi goreng menebar ‘ranjau’. Makanya, waspadalah! Waspadalah!

My Mom is Back!

July 30th, 2008 by miringmiring

Alhamdulillah, selang satu jam setelah saya posting blog sebelumnya (baca: Kabar Campur Aduk Nih), ternyata kegembiraan memang milik saya hari ini. Bagaimana tidak. Sebelumnya, nyokap sempat tergolek sakit dan dipijat oleh adik saya. Jelang tengah malam, ketika saya makan mie rebus bikinan sendiri, ternyata nyokap bangun.

“Beli apa bikin sendiri?” ujar nyokap masih dalam posisi tiduran

“Bikin. Males ah kalo beli. Males jalannya. Lagian udah malam gini, tukang mie pada kabur. Mama mau?”

Gak disangka banget, nyokap tiba-tiba bilang, “Mau dong dibikinin.”

Ini tentu surprise buat saya. Jangankan lagi sakit, kondisi sehat aja nyokap jarang makan. Kok ini tiba-tiba minta dimasakin mie instant. Segera aja saya tinggalkan mie yang baru setengah mangkuk saya santap dan menuju dapur nyalain kompor.

Saya patut mensyukuri kejadian malam ini. Bagaimanapun saya terkejut, ternyata nyokap udah bisa ngobrol sampai larut malam, seolah-olah di menit mundur ke-60 tidak sakit. Wah, asik beneran gak jadi ‘puasa’ masakan nyokap. Alhamdullilah, I love you, Mom. Thx ya Allah…